Tampilkan postingan dengan label pergerakan nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pergerakan nasional. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2018

Perjuangan Mahatma Gandhi dalam Pergerakan Nasional


      Gandhi telah mulai merintis perjuangannya sejak di berada di Afrika Selatan. Pada tahun 1893 dimana dia melihat adanya perlakuan diskriminasi yang dilakukan oleh pemerintah setempat terhadap masyarakat India, serta masyarakat kulit hitam di sana untuk melakukan tindakan non-kooperasi terhadap pemerintah / penguasa Afrika Selatan.      Gandhi menemukan penindasan tidak hanya pada mereka yang membangkang, namun juga pada yang luka-luka dan meregang nyawa. Dalam catatan hariannya, Gandhi menulis, "Saat itu tak ada orang Eropa yang bersedia membantu membalut luka mereka...Kami harus membersihkan luka-luka orang Zulu yang tidak dirawat setidaknya setelah lima atau enam hari yang lalu, karena itu luka-lukanya membusuk dan sangat menakutkan. Kami menyukai pekerjaan kami."Situasi itu menjadi peletup kesadaran Gandhi bahwa kekerasan tak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Bila mata dibalas dengan mata, semua manusia akan gelap mata. Kesadaran lain yang muncul saat itu adalah bahwa ia harus memberikan pelayanan terhadap semua manusia dengan segenap jiwa raganya.            Kesadaran ini diwujudkan dalam prinsip perjuangan: bramkhacharya (mengendalikan hasrat seksual), satyagraha (kekuatan kebenaran dan cinta), swadeshi (memenuhi kebutuhan sendiri) dan ahimsa (tanpa kekerasan terhadap semua makhluk). Setelah itu, Gandhi terus-menerus melakukan perlawanan kesewenang-wenangan dengan gerakan tanpa kekerasan. Misalnya, Gandhi menolak aturan diskriminatif dengan mogok makan, berjalan kaki bermil-mil, membuat garam sendiri ketika semua rakyat harus membeli garam dari pemerintah Inggris, dan sebagainyaBagi Gandhi, hasrat seksual merupakan sumber dari kejahatan dan cenderung mementingkan diri sendiri, yaitu nafsu, amarah, dan agresi. Hasrat seksual dapat ditaklukkan melalui penolakan terhadap adanya pamrih yang selalu mengikuti perbuatan, untuk itulah ia bertekad menjalani prinsip bramkhacharya.            Ketiadaan pamrih dapat dilakukan bila jiwa terikat pada prinsip Kebenaran Ilahiah. Inilah prinsip satyagraha, yaitu kepercayaan bahwa jiwa dapat diselamatkan dari kejahatan dunia, dan juga dapat memberikan pertolongan, sejauh jiwa itu senantiasa berada dalam pencariannya terhadap Tuhan melalui kebenaran dan hanya kebenaran.Swadeshi dapat diartikan dalam beberapa arti yang bermacam-macacm oleh kaum politik India itu sendiri. Ada yang mengartikan sebagai suatu boikot tak mau membeli barang-barang buatan Inggris, yakni sebagi suatu taktik pejuangan menyerang.

Sabtu, 11 Januari 2014

SEJARAH PERGERAKAN NASIONAL



Sebuah Pengantar
            Sejarah pergerakan di tanah air banyak didominasi oleh para mahasiswa dan pemuda yang memiliki watak kaum muda yaitu menginginkan perubahan. Mulai dari revolusi kemerdekaan, orde lama dan orde baru serta orde reformasi maupun tonggak-tonggak perubahan kebangsaan lainnya mesti melibatkan mahasiswa-pemuda yang senantiasa tampil di garda depan. Sejarah pergerakan nasional itupun dimulai seiring dengan lahir tumbuh-kembangnya organisasi mahasiswa-pemuda yang memiliki kesadaran nasionalisme dalam orientasi pergerakannya.
Pembuktian sejarah gerakan mahasiswa Indonesia sesuai dengan konteks  zamannya, haruslah memberikan kesimpulan apakah  gerakan tersebut,  dalam oreientasi dan tindakan politiknya, benar-benar mengarah dan bersandar pada problem-problem dan kebutuhan  struktural rakyat Indonesia. Orientasi dan tindakan politik  merupakan cermin dari bagaimana mahasiswa Indonesia memahami masyarakatnya, menentukan  pemihakan pada rakyatnya serta kecakapan  merealisasi nilai-nilai tujuan atau ideologinya.
Karena  pranata mahasiswa merupakan gejala  pada  masyarakat yang telah memiliki kesadaran berorganisasi, dan mahasiswa  merupakan  golongan yang diberikan kesempatan sosial untuk  menikmati kesadaran tersebut, maka asumsi bahwa gerakan mahasiswa  memberikan  penghargaan yang tinggi terhadap kegunaan organisasi  dalam gerakannya adalah absah. Dengan demikian kronologi sejarah gerakan  mahasiswa  harus memperhitungkan batasan  bagaimana  sejarah mahasiswa  memberikan nilai lebih terhadap  organisasi sebagai alat perjuangan politik modern.  Meskipun demikian, tidak ada maksud untuk tidak menghargai gerakan  rakyat spontan.
Nilai  lebih  organisasi dalam  gerakan  mahasiswa  hanyalah bermakna  bahwa  di dalam  organisasi,  mahasiswa  ditempa   dan dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1.      Pemahaman / pengidentifikasian  terhadap masyarakat dan persoalan-persoalannya.
2.      Keberpihakan  pada rakyat.
3.      Kecakapan-kecakapan dalam pengelolaannya dalam mencapai tujuan ideal/ideologinya.
Ketiga syarat tersebut mencerminkan:
1.      Tujuan dan orientasi gerakan mahasiswa.
2.      Metodologi gerakan mahasiswa.
3.      Pengorganisasian  sumber daya manusia, logistik  dan  keuangan Gerakan Mahasiswa (GM) dan
4.      Penentuan program-program politik  GM yang  bermakna  strategis-taktis.

Kategori organisasional in pulalah menjadi semakin penting karena terbukti pad GM masa Orba (juga kini) tidak mampu memaksimalkan arti dan peranan organisasi sebagai alat perjuangan modern. Dengan kategori ini kita akan melintas sepintas perjalanan GM Indonesia dari zaman kolonial Belanda sampai saat ini.